Minggu, 29 Juni 2008

Uniknya Karakter Anak Kedua

Uniknya Karakter Anak Kedua ...

Setiap anak mempunyai karakter sendiri-sendiri. Namun, entah mengapa, anak kedua biasanya unik. Karakter mereka bertolak belakang dengan si sulung maupun si bungsu.

Entah kebetulan
atau tidak karakter atau kepribadian anak kedua (anak tengah) umumnya
jauh berbeda. Kalau si sulung dan si bungsu termasuk ramai atau
cerewet, anak kedua biasanya lebih kalem. Bila anak pertama dan
terakhir memiliki karakter kalem, anak kedua cenderung bandel.

Itulah yang diutarakan Roslina Verauli, MPsi, psikolog klinis anak dari Empati Development Center, Jakarta. Kondisi itu terbentuk karena pola asuh dari orangtua.

Anak kedua atau
anak tengah ini, menurut Vera, begitu psikolog ini biasa disapa,
umumnya diperlakukan dalam dua tipe. Bisa saja ia menjadi anak
terabaikan, atau pola pengasuhannya disamakan dengan anak sebelumnya
atau kakaknya.

Anak kedua
menjadi terabaikan manakala perhatian orangtua lebih banyak tercurah
pada sang kakak atau sang adik. Sebagai gambaran, pada kebanyakan anak
pertama, curahan perhatian dari orangtua cenderung berlebih. Bukan
hanya dari orangtua, tetapi juga dari keluarga terdekat, termasuk kakek
dan nenek.

Saat anak
pertama mulai bisa menulis atau membaca misalnya, dia relatif menjadi
pusat perhatian dari seluruh keluarga. Namun, ketika anak kedua juga
bisa melakukan hal serupa, sudah tidak ada geregetnya lagi. Dengan kata
lain, itu sudah menjadi hal biasa. Faktor inllah yang membuaf anak
kedua cenderung terabaikan. Selanjutnya sikap itu membuat kepribadian
yang terbentuk pun berbeda.

Mudah Beradaptasi
"Memang
anak pertama biasanya mendapat perhatian berlebih, dan anak kedua
cenderung terabaikan," ujar psikolog lulusan Fakultas Psikologi UI ini.


Apalagi jika kebetulan anak pertama tergolong berkepribadian high achiever atau berprestasi tinggi, sedangkan anak kedua tidak menjadi sosok serupa.
Memang sangat
tidak bijaksana bila orangtua mengabaikan anak kedua. Apa pun
kondisinya, anak kedua tetap membutuhkan perhatian yang sama. “Perlu
diingat bahwa anak yang terabaikan ini akan menarik perhatian dengan
cara mereka sendiri," kata Vera. Anehnya, anak kedua yang terabaikan
ini secara sosial justru mudah mencari teman karena proses adaptasinya
berjalan lebih cepat.

Ada
penelitian yang menyebutkan, anak kedua memang berbeda, bahkan
berkebalikan dengan kakaknya, untuk mencari perhatian. Itu pula
sebabnya dari sisi kepribadian anak kedua menjadi lebih sulit.

Perilakunya nyeleneh atau
aneh, bahkan memakai cara-cara yang tidak tepat demi mendapat perhatian
dari keluarga. Akan lebih mudah baginya untuk menjadi anak nakal dan
tidak berprestasi, supaya mendapat perhatian.

Anak kedua yang terabaikan
juga berkemungkinan memiliki konsep diri yang tidak berkembang ke arah
positif. Penyebabnya tak lain karena pengabaian itu dirasakan
seolah-olah sebagai bentuk penolakan terhadap dirinya.

Ada beberapa
anak kedua yang tumbuh menjadi inferior atau rendah diri, tidak percaya
diri, mempunyai konsep diri yang rendah, dan kurang bisa menghargai
diri sendiri. Akhirnya mereka jadi nakal dan cenderung melakukan
hal-hal negatif yang bisa merusak diri sendiri.

Namun,
kecenderungan terabaikan oleh orangtua ini tidak lantas membuat
semangat anak kedua surut. Dari berbag√°i penelitian diketahui bahwa
anak kedua mempunyai motivasi tinggi

Memahami Kebutuhan
Di sisi lain, pola pengasuhan yang menyamaratakan semua anak juga tidak bisa diterapkan pada anak kedua.

Tak sedikit
orangtua yang menerapkan pola pengasuhan yang sama pada anak kedua
karena dianggap telah berhasil diterapkan pada anak pertama. Sayangnya,
hal ini tidak tepat.

Dengan konsep
pola asuh seperti itu, anak kedua kerap tidak dilihat sebagai diri
merekä sendiri. Anak dengan tipe ini cenderung tidak mau kalah dengan
sang kakak. Mereka ingin melebihi kakak dan berkompetisi untuk bisa
seperti kakaknya. Kemauan mereka untuk mampu melakukan hal-hal yang
dikerjakan kakaknya, tampak lebih besar.

Yang paling tepat bagi anak, menurut Vera, orangtua harus melihat dan memahami kebutuhan (needs)
yang dilihat dari tahapan usia, temperamen, dan kepribadian anak.
“Memang, makin banyak anak makin sulit untuk mengasuhnya,” ucapnya.

Sebenarnya anak
kedua mempunyai model atau contoh berperilaku lebih banyak. Ia bisa
melihat perilaku kakak dan orangtuanya. Anak kedua nyaris tidak
mendapat tekanan yang besar, seperti anak pertama.

Kita
tahu, budaya masyarakat kita biasanya mengharapkan anak pertama "lebih”
dalam segalanya dibanding adik-adiknya karena diharuskan jadi contoh.
Misalnya lebih pandai, lebih berprestasi, lebib pandai bergaul, lebih
pemberani, dan lain-lain. Sebaliknya, anak kedua sesungguhnya lebih
bebas dan mandiri dalam menentukan arah hidupnya. “Hal itu membuat
kesan seolah anak kedua semaunya sendiri,” sebutnya.

2 komentar:

amandapahlawan mengatakan...

Setuju banget nh. saya anak tengah dan merasakan banget apa itu middle child syndrome

cahyadi mr mengatakan...

yayaya...kenyataannya memang bgtu, salut deh sama tulisannya (y)